Seorang Pahlawan Tidak Menganggap Dirinya Sebagai Pahlawan
Pahlawan adalah orang yang berjasa. Jasa pada siapa saja, terutama kepada diri kita. Pahlawan itu soal perjuangan. Pahlawan itu soal kebermanfaatan diri di tengah-tengah masyarakat. Pahlawan itu, orang yang mendapat pahala di sisi Tuhan akibat yang telah ia kerjakan.
Seorang pahlawan tidak mencari gelarnya sendiri. Gelar pahlawan tentu mereka diberikan oleh orang lain. Pahlawan tidak pernah terlintas di pikirannya bahwa orang akan menganggap dirinya sebagai "pahlawan". Bahkan, gelar pahlawan itu tidak dapat diperoleh atau diajukan secara pribadi. Tetapi, orang lainlah yang mengusulkan bahkan menyematkan tanda pahlawan.
Mereka yang telah menjadi pahlawan telah mengalami penepaan spiritual, emosional, hingga intelektual. Tempaan spiritual yang kuat menjadikan mereka mempunya jiwa ketuhanan yang tinggi. Demi apa mereka berjuang hingga mati? Apa jaminan mereka berjuang sampai titik darah penghabisan? Tidak ada jawaban yang pas, melainkan karena memiliki keyakinan akan kekuatan yang menjadi sandaran nilai ketuhanan.
Perjuangan pahlawan tidaklah sendiri, pahlawan berjuang secara tim. Pahlawan selalu memiliki partner untuk menjalankan strategi perjuangannya. Jika Jendral Sudirman memiliki tentara untuk perang gerilya, Ki Hadjar Dewantara punya taman siswa, Mbah Wahhab dan Mbah Hasyim Asy'ari punya pesantren. Tempaan inilah yang kami sebut sebagai tempaan emosional. Ada rasa untuk menyatukan emosional dari masyarakat, diajak untuk berjuang.
Selanjutnya tempaan intelektual. Adakah pahlawan dari golongan orang-orang yang bodoh? Tidak ada. Semua pahlawan itu berpendidikan. Baik pendidikan formal, maupun pendidikan non formal. Ada yang jauh-jauh belajar ke Belanda, ada pula yang belajar ke Arab, tetapi pahlawan tetap sadar akan identitas sebagai orang Indonesia hingga mau memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Mereka yang berjuang saja mungkin tidak dimasukkan sebagai pahlawan nasional. Setiap pahlawan memiliki daerah masing-masing, daerah dimana mereka dikenal dan dikenang. Penghargaan terhadap mereka tidak melulu dengan memasukkan sebagai pahlawan nasional, melainkan hanya kenang-kenangan besi berbentuk bendera merah putih di makam mereka.
Tidak selamanya perjuangan dinilai sebagai nilai kepahlawanan. Bahkan, pahlawan harus berpuasa selama berpuluh tahun, bahkan setelah mati sekalipun. Lihatlah, berapa lama KHR. As'ad Syamsul Arifin berjuang, dan sudah berapa lama beliau meninggal? Beliau meninggal tahun 1990 hingga kemarin Rabu tanggal 9 November 2015 beliau baru saja dinobatkan sebagai pahlawan nasional.
Jika pahlawan nasional membutuhkan waktu berpuluh-puluh berjuang, dapatkah kamu menjadi pahlawan orang terdekatmu?
Disqus Comments
